Cerpen (Cerita Pendek): Sahabat

Cerpen (Cerita Pendek): Sahabat

Cerpen (Cerita Pendek): Sahabat (Photo: joe-renaissanceman.blogspot.com)

Cerpen sahabat ini menceritakan persahabatan yang saling membantu disaat sahabatnya membutuhkan pertolongan. Bagaimana kelanjutan dari cerpen sahabat ini?


Rolan dan Alice adalah sahabat baik yang sudah lama. Mereka tinggal bersama dalam satu unit apartmn. Mereka baru berkenalan dengan Alonso, dan ternyata Alonso menyukai Rolan dan ingin mengajak kencan Rolan.

“Rolan, Sabtu ini kamu kosong?” Tanya Alonso ditelepon.
“Iya, ada apa ya?” Rolan penasaran.
“Maukah kamu pergi denganku?” Suara Alonso penuh harap.
Rolan yang ingin menolak kebingungan mencari alasan, tapi karena ingin menghargai Alonso akhirnya dengan berat hati Rolan menyetujuinya. “Baiklah”, kata Rolan enggan.

“Alice, Sabtu ini Alonso mengajakku pergi keluar, apa kamu mau ikut denganku?” Tanya Rolan yang berharap Alice ikut dengannya.
“Rolan, Alonso itu hanya mengajak kamu. Dia tidak mengajak aku, masak kamu tidak mengerti maksudnya? Mungkin saja dia ingin mendekatimu. Dan bila itu benar, dia bisa sangat terganggu dengan kehadiranku.” Kata Alice ragu-ragu sambil mengukur reaksi Rolan.
“Karena itu aku ingin kamu ikut denganku. Kamu kan tahu aku tidak punya perasaan dengan Alonso.” Rolan masih tetap mendesak agar Alice mau ikut dengannya.
“Tapi kalau aku ikut, aku yang jadi tidak enak dengan Alonso. Dia kan mengajak kamu, bukan aku.” Jawab Alice masih tidak ada rencana untuk ikut dengan Rolan.
“Alice, kumohon, aku benar-benar tidak ingin pergi berdua dengan Alonso.” Rolan memandang Alice dengan mata memohon. Alice yang kasihan dengan sahabatnya itu akhirnya menyetujui ikut dengan Rolan.
“Baiklah, tapi kamu harus bilang kepada Alonso bahwa besok aku akan ikut, dan kamu juga harus mencarikan teman untukku. Aku tidak ingin dianggap mengganggu oleh Alonso.” Kata Alice yang kasihan dengan sahabat baiknya itu.
“Terima kasih Alice.” Rolan tersenyum dan memeluk Alice dengan sayang.

Hari itu juga Rolan menghubungi Alonso untuk memberitahukan bahwa Alice akan ikut pergi dengannya.
“Hai Alonso, aku mengajak Alice untuk ikut kita pergi. Kita harus mencarikan teman untuknya.” Rolan memberitahukan dengan lembut.
“Besok aku akan menjemputmu naik sepeda motor. Bagaimana dengan Alice?” Alonso tidak ingin Alice ikut.
“Untuk itu kita harus mengajak teman lagi untuk menjemput Alice.” Suara Rolan terdengar tegas.
“Baiklah akan aku carikan teman.” Jawab Alonso enggan.

Rolan menceritakan semua kepada Alice tentang apa yang Alonso bilang.
“Rolan, aku tidak perlu ikut. Alonso tidak ingin aku ikut.” Alice merasa tidak enak kepada Alonso.
“Tapi aku ingin kamu ikut.” Rolan memohon sambil mencari nomer telepon teman yang kiranya dapat diajak.
“Alonso kan akan menjemputmu naik sepeda motor, dan itu menunjukkan aku tidak bisa ikut.” Alice masih berharap Rolan tidak memaksanya ikut.
“Karena itu sekarang aku mencarikan teman untukmu. Tenang saja, Sabtu masih besok, kita akan menemukan teman untukmu.” Bujuk Rolan sambil terus mencari nomer telepon.

Sudah dua jam Rolan menghubungi teman-teman yang lain, tapi mereka tidak ada yang bisa ikut. Semua sedang sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang ujian, mengerjakan tugas, dan lain sebagainya. Rolan sudah putus asa. Sedang Alonso sudah jelas tidak ingin membantu mencarikan teman untuk menemani Alice.

“Alice, meskipun tidak ada yang ikut, aku mohon kamu mau menemaniku ya?” Rolan masih memohon putus asa.
“Tapi Alonso mengendari sepeda motor, terus bagaimana dengan aku? Lagian Alonso akan berusaha mendekatimu, sedang aku hanya akan jadi pengganggu saja.” Alice masih enggan.
“Alice, hanya kamu satu-satunya sahabatku, bila sahabat baikku saja tidak mau membantuku, siapa yang akan membantuku?” Suara Rolan benar-benar sudah putus asa.
“Baiklah aku akan ikut denganmu, tapi bagaimana aku pergi? Aku bisa saja meminjamkan mobilku bila dia mau.” Alice kasihan dengan temannya dan tidak berusaha untuk menolak lagi.
“Terima kasih Alice. Meskipun dia tidak mau, aku mau meminjam mobilmu.” Rolan berkata sambil tersenyum lega.

Hari Sabtu jam enam sore Alonso sudah sampai apartemen Rolan dan Alice.
“Hai Alonso, kita akan pergi dengan mobil Alice, kau tidak keberatan kan?” Tanya Rolan geli.
“Tapi aku tidak bawa SIM untuk mengendarai mobil.” Alonso terlihat kecewa.
“Karena aku tidak bisa mengemudi, bagaimana bila Alice yang mengemudi?” Rolan jengkel dengan Alonso.
“Boleh saja, memang kita mau kemana?” Alice sedikit enggan.
“Ke restoran langgananku. Nanti aku akan tunjukkan jalannya.” Kata Alonso sinis.
“Baik, tapi kalau mau belok tolong jauh-jauh ya bilangnya, karena kau tahu sendiri jalanan padat bila hari sabtu.” Kata Alice sambil mengambil kunci mobil.

Alice mengemudi mobilnya, Rolan ada disampingnya dan Alonso duduk dibelakang Alice supaya dia bisa memandang Rolan. Sepanjang perjalanan Alonso selalu mengajak Rolan bicara tanpa mempedulikan Alice yang bertanya jalan. Hampir berapa kali Alice menabrak mobil lain karena Alonso baru memberitahunya belok setelah sudah dekat dengan belokan. Rolan yang sudah jengkel dengan Alonso sering menegurnya dan memilih berbicara sendiri dengan Alice.

Sesampainya di restoran, Alonso jalan dulu didepan tanpa melihat kebelakang. Rolan dan Alice asik berbicara sendiri tanpa mempedulikan Alonso. Pertemuan hari itu berjalan singkat, setelah makan malam mereka langsung pulang dan sesampainya di apartmn, Alonso segera berpamitan dan meninggalkan apartemn Rolan dan Alice.

“Rolan, apa kau tidak merasa keterlaluan memperlakukan Alonso seperti itu? Memang aku jengkel dengannya karena dia tidak menganggapku waktu aku bertanya jalan sampai setiap kali mau belok selalu memotong jalan.” Kata Alice sedikit kasihan kepada Alonso.
“Biar saja, dia itu sudah mengacuhkanmu, aku tidak suka pria macam dia. Kau lihat tadi? Dia berjalan didepan kita seolah-olah kita tidak ada. Aku butuh pasangan yang bisa menjagaku Alice. Bila dia pria sejati, dia pasti akan berjalan dibelakang kita, bukan didepan kita. Kalau ada apa-apa dengan kita, dia tidak akan tahu bila jalannya didepan seperti itu. Dan aku benar-benar tidak terima dia memperlakukanmu seperti itu. Kau ikut karena aku yang memintamu, itu bukan kemauanmu sendiri. Harusnya dia bisa lebih menghargai kamu. Alice, aku sangat berterima kasih karena kau bersedia menyelamatkan aku dari pria macam itu.” Rolan memeluk Alice dengan sayang.Malam itu Rolan dan Alice saling menceritakan tipe cowok yang mereka harapkan sampai akhirnya mereka tertidur.


Jangan lewatkan cerpen-cerpen menarik lainnya oleh Ms. Diana C.T.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


2 × = fourteen

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>